Tuhan Yesus seringkali menyampaikan pesan-pesan surgawi melalui cerita yang membumi. Salah satu yang paling menggetarkan hati adalah kisah tentang seorang gembala dan satu domba yang sesat. Melalui kisah ini, Yesus tidak sedang berbicara tentang angka, melainkan tentang detak jantung Allah bagi setiap pribadi.
Dalam Matius 18:12-14 kita belajar bahwa di mata Allah, satu orang bukan sekadar statistik. Bayangkan seorang gembala yang memiliki seratus domba. Bagi dunia, kehilangan satu berarti masih ada sembilan puluh Sembilan, hal ini di pandang dunia sebuah kehilangan yang dianggap kecil. Namun, bagi Sang Gembala, satu yang hilang itu adalah kehilangan yang nyata. Ia mengenal nama domba itu, ia tahu sifatnya, dan ia merasakan ketidakhadirannya. Karena bagi gembala yang baik Domba adalah hewan yang unik dalam keterbatasannya. Mereka tidak punya arah kompas alami untuk pulang; mereka mudah panik dan rentan jatuh ke jurang atau menjadi mangsa. Ketika seekor domba sesat, ia tidak sedang berpetualang, ia sedang menjemput maut. Ia benar-benar tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Inilah gambaran kondisi rohani manusia yang terpisah dari Tuhan: tersesat, ketakutan, dan tanpa harapan.
Sebab itu ketika mengetahui bahaya yang mengintai, Sang Gembala tidak tinggal diam. Ia tidak menunggu domba itu pulang sendiri, karena ia tahu itu mustahil. Oleh karena itu gembala berinisitif dengan meninggalkan kenyamanannya untuk mencari domba tersebut, sekalipun harus melewati berbagai tantangan yang berat namun Dia akan tetap setia untuk mencarinya, sebab bagiNya satu domba itu sangatlah berharga.
Hal ini mengajarkan kita sebagai orang percaya bahwa bukan gembala tidak mengasihi Sembilan puluh Sembilan domba tersebut, tetapi bagi gembala Sembilan puluh Sembilan ini mereka setia untuk apa harus di jaga, mending pergi untuk mencari domba yang hilang suoaya dikumpulkan bersama domba yang lainnya.
Begitu juga dalam kehidupan kita, jika kita hilang Allah selalu setia untuk mencari kita unuk dikumpulkan dalam kelompoknya Allah.